Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu.
Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana
Mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga
Persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka
pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa,di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam
bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga
jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak
cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan
sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang
menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua.
Click to view another photos...
Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam.
Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di
intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut
bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hamper sebagian besar
penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!
Anak-Anak Yang Digegas...
Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap
anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan
intelektual secara dini. Akibatnva bermunculanlah anak-anak ajaib
dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani
akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.
Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini
terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker.
Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang
psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard
College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya dibidang matematika
begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi
berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber
seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil
tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu
dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu
silam.
Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi
pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana
seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen
menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif
anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir
ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat
sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya
sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan
kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State
University . Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena
terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar
Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak
kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang
bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.
Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang
berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka
hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.
Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak
di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif. Otak memang memiliki
kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak
orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan Early Childhood Training. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. Setiap orangtua dan
pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan
kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak
kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke
dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal
ini terjadi sekarang dimana-rnana, di Indonesia.
Early Ripe, early Rot...!
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990
di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya
pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila
mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan
menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan peluang emas bagi
anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-Kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.
Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah Era
Headstart merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis
untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa
mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.
Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome
Bruner,seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku
terkenal The Process of Education pada tahun 1990, la menyatakan bahwa
kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development . Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salah artikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk... early
ripe, early rot!
Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia
SD.
Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu
mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman
menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.
Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep
kesiapan-readiness dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang
mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang biological
limitiions on learning'. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.
Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di
sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi miniature
orang dewasa . Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah
sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet.
Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak
yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang
keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual
promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa,
berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.
Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah
faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti
halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan
ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka
tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di
berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda
dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya kedewasaan , sementara perasaannya menangis berteriak sebagai anak.
Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang
anak laki-laki Heintje di era tahun 70-an... I'm Nobody'S Child I'M NOBODY'S
CHILD I'M nobody's child I'm nobodys child Just like aflower I'm
growing wild No mommies kisses and no daddy's smile Nobody's louch me I'm
nobody's child
Dampak berikutnya terjadi ... ketika anak memasuki usia remaja Akibat
negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki
usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam
perilaku yang tidak patut. Patricia O'Brien menamakannya sebagai The Shrinking of Childhood. Lu belum tahu ya... bahwa gue telah melakukan segalanya, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya.
Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks serunya bangga.
(bersambung)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD ditjen Dikdasmen,
Depdiknas,Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan
Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation
Anak Anak Karbitan (bagian 2)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 02-February-2007, 06:38:50
Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas
yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak
mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih
mengandalkan tenaga baby sitter sebagai pengasuh anak-anaknya. Colette
Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai Cinderella Syndrome
yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri,
atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi
menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.
Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di
lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua
yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap
pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai
wakil dari orang tua.
ERA SUPERKIDS
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya be special daripada be
average or normal semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi to exel to be the best. Sebetulnya tidak ada yang salah. Nanun
ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai
kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang,
basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi
lainnya...maka lahirlah anak-anak super---SUPERKIDS' . Cost merawat
anak superkids ini sangat mahal.
Era Superkids berorientasi kepada Competent Child. Orangtua saling
berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya earlier is
better.
Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke
dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang
sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah... ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!
BERBAGAI GAYA ORANGTUA
Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan
berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan
miseducation terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989)
mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:
Gourmet Parents-- (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus,
mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan
gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan
cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka.
Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu
isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka superkids
merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.
Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek
terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang
prestisius.
Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak
tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita
melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai
merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua gourmet
atau- kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.
College Degree Parents --- (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah
ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering
melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya
membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikular
lainnya.
Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan
hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka
Superkids , Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang
tinggi.
Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang
prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa
pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.
Gold Medal Parents -- (ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya
menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan
anaknya ke berbagai kompctisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu
pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini
lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut
menyanyi,kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi seorang
Bintang Sejati . Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi
Sang Juara, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang
cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.
Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan
anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di
mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara
yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak mulai
resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil
mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya
bersabar.
Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai
pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas
kertas.Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku
ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an
seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat
ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus bintang cilik Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya.
Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni
penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya
menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!
Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik
Joshua yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang
dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia
muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan
nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan
bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang superkid
--seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film....
(bersambung)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen,
Depdiknas,Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan
Karakter
divisi dari Indonesia Heritage Foundation.
----------
Anak Anak Karbitan (bagian 3)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 09-February-2007, 04:37:24
Outward Bound Parents--- (ORTU PARANOID) Untuk orangtua kelompok ini
mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan
keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan
anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan
menerima konsep Superkids Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak
yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya.
Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti
memasukkan anak-anaknya Karate, Yudo, pencak Silat sejak dini.
Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya
adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panic dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka
pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka
menjadi steril dengan lingkungannya.
Prodigy Parents -- (ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak
memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata,hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.
Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang
Cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah
terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah.
Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya
buku tentang Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca karangan Glenn Doman , atau
Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika karangan Siegfried, Berikan
Anakmu pemikiran Cemerlang karangan Therese Engelmann, dan Kiat-Kiat
Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari karangan Sidney Ledson .
Encounter Group Parents--(ORTU NGERUMPI) Merupakan kelompok orangtua
yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup
berpendidikan,namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat
mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain.
Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku gang ngerumpi yang terkadang
mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya
sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka
memiliki aktivitas di kelompoknya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk
memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai
Superkids juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.
Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak
yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis.
Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi
anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang
menjadi oraugtua yang melakukan miseducation dalam merawat dan mengasuh
anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada
anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua. Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan,bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak
mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun
meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang
menyebabkan Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.
Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan
menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar scorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan
unik!
Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih
kuat,atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada
kenangan indah;terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu
mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa
kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan
apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati
kita,maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan
kita (destoyevsky' s brothers karamoz)
(bersambung)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi
dari Indonesia Heritage Foundation.
----------
Anak Anak Karbitan (bagian 4)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 16-February-2007, 05:26:46
Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah.
Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas
yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh
jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat
apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan
susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran?
Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa
yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka
sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang
pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada
dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam
kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk
sekolah... dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk....
Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah
untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara
yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire
mengatakan bahwa sekolah telah melakukan pedagogy of the oppressed terhadap
anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru
berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru
memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi
program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak
adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran
banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan
terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking
wilayah....
Mengkompetensi Anak--- merupakan KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?
Anak adalah anugrah Tuhan... sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi
citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang
bertanggungjawab. (Nature versus Nurture) bagaimana? Karena ada dua
pengertian kompetensi. kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar
diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan
kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep
kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920
yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak
kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi
mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran
dini.
Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut: Give me a
dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring
them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and train him
to become any type of specialist I might select -- doctor, lawyer, artist,
merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this
talents,penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors
Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan intervensi dini
setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada
anak-anaknya.
Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada
tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill) dalam mata pelajaran
membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : The improvement in those areas were not the result of any magic program or
any singular teaching strategy, they were... simply proof that
accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey
(bersambung)
Anak Anak Karbitan (bagian 5 - habis)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 23-February-2007, 04:19:32
Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif
melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak
didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak
akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah
dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan
pendidik sanubari karakter. Dimana mereka mendidik anak menjadi good
and smart terang hati dan pikiran.
Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan how learn to learn pada
anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak
didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan
berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi
sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik
yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai
kreativitas.
Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya
berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison
mengatakan bahwa genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration . Semangat belajar encourage tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak.
Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar.
Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak
mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang
paling fundamental adalah mengalirkan moral litermy melalui pendidikan
karakter.
Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus
karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King,
Jr). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi
otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan
yang berguna dengan perbuatan yang baik....
PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang
terang hati dan terang pikiran good and smart merupakan tugas kita
bersama.
Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti
dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya
antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak
berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.
Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini
kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi SUPERKIDS. Inilah
fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari
lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke
kanak-kanakan.
(disadur dari berbagai sumber)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi
dari Indonesia Heritage Foundation
Welcome to PAUD Islam Al Fatah
Selamat Datang di PAUD Islam Al Fatah, Jatiasih Kota Bekasi
Halaman
Senin, 25 Januari 2010
Anak-anak Karbitan
Anak-anak yang digegas Menjadi cepat mekar Cepat matang Cepat layu.
Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana
Mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga
Persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka
pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa,di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam
bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga
jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak
cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan
sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang
menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua.
Click to view another photos...
Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam.
Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di
intenet dan lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut
bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hamper sebagian besar
penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak tahuannya!
Anak-Anak Yang Digegas...
Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap
anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan
intelektual secara dini. Akibatnva bermunculanlah anak-anak ajaib
dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani
akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.
Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini
terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker.
Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang
psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard
College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya dibidang matematika
begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi
berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber
seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil
tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu
dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu
silam.
Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi
pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana
seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen
menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif
anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir
ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat
sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya
sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan
kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State
University . Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena
terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar
Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak
kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang
bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.
Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang
berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka
hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstien yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.
Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak
di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif. Otak memang memiliki
kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak
orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan Early Childhood Training. Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. Setiap orangtua dan
pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan
kognitif yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak
kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke
dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal
ini terjadi sekarang dimana-rnana, di Indonesia.
Early Ripe, early Rot...!
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990
di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya
pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila
mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan
menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan peluang emas bagi
anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman Kanak-Kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.
Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah Era
Headstart merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis
untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa
mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.
Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome
Bruner,seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku
terkenal The Process of Education pada tahun 1990, la menyatakan bahwa
kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. We begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development . Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salah artikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk... early
ripe, early rot!
Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia
SD.
Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu
mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman
menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.
Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep
kesiapan-readiness dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang
mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang biological
limitiions on learning'. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.
Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di
sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi miniature
orang dewasa . Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah
sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film, televisi, dan internet.
Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak anak
yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media begitu merangsang
keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa. sebagai seksual
promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah memekarkan bahasa,
berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.
Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah
faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti
halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan
ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka
tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh cepat di
berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda
dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak. Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak menampilkan gaya kedewasaan , sementara perasaannya menangis berteriak sebagai anak.
Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang
anak laki-laki Heintje di era tahun 70-an... I'm Nobody'S Child I'M NOBODY'S
CHILD I'M nobody's child I'm nobodys child Just like aflower I'm
growing wild No mommies kisses and no daddy's smile Nobody's louch me I'm
nobody's child
Dampak berikutnya terjadi ... ketika anak memasuki usia remaja Akibat
negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki
usia remaja. Mereka tidak segan segan mempertontonkan berbagai macam
perilaku yang tidak patut. Patricia O'Brien menamakannya sebagai The Shrinking of Childhood. Lu belum tahu ya... bahwa gue telah melakukan segalanya, begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman-temannya.
Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks serunya bangga.
(bersambung)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD ditjen Dikdasmen,
Depdiknas,Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan
Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation
Anak Anak Karbitan (bagian 2)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 02-February-2007, 06:38:50
Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas
yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan anak-anak
mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih
mengandalkan tenaga baby sitter sebagai pengasuh anak-anaknya. Colette
Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai Cinderella Syndrome
yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri,
atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi
menghindari kehidupan nyata yang mereka jalani.
Kelompok ini akan sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di
lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Les, dan mengikuti berbagai arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua
yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada baby sitter terhadap
pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di lembaga pendidikan eksekutif sebagai
wakil dari orang tua.
ERA SUPERKIDS
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya be special daripada be
average or normal semakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin anak-anak mereka menjadi to exel to be the best. Sebetulnya tidak ada yang salah. Nanun
ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti berbagai
kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang,
basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi
lainnya...maka lahirlah anak-anak super---SUPERKIDS' . Cost merawat
anak superkids ini sangat mahal.
Era Superkids berorientasi kepada Competent Child. Orangtua saling
berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya earlier is
better.
Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke
dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil Posmant seorang
sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah... ketika anak anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan!
BERBAGAI GAYA ORANGTUA
Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan
berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan kesalahan
miseducation terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989)
mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan, antara lain:
Gourmet Parents-- (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus,
mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan
gaya hidup kebarat baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan
cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta mereka.
Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena ingin tahu
isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka superkids
merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai orangtua.
Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek
terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang
prestisius.
Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka sudah diajak
tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu saat kita
melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh berbagai
merek mobil terkenal, maka itulah sekolah banyak kelompok orangtua gourmet
atau- kelompok borju menyekolahkan anak-anaknya.
College Degree Parents --- (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah
ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering
melibatkan diri dalam barbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya
membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikular
lainnya.
Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan
hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka
Superkids , Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang
tinggi.
Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah mahal yang
prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa
pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.
Gold Medal Parents -- (ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya
menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan
anaknya ke berbagai kompctisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu
pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini
lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut
menyanyi,kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi seorang
Bintang Sejati . Sejak dini mereka persiapkan anak-anak mereka menjadi
Sang Juara, mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis hingga none abang
cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.
Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang puluhan
anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di
mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan acara
yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak mulai
resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara anak kecil
mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk anak-anaknya
bersabar.
Mengharapkan acara segera di mulai dan anaknya akan kelular sebagai
pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir panas dengan berkipas
kertas.Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku
ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an
seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat
ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus bintang cilik Yoan Tanamal yang mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya.
Kemudian menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni
penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya
menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana pada anak-anak mereka!
Pada tanggal 29 Mei lalu kita saksikan di TV bagaimana bintang cilik
Joshua yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya. Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang bintang
dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur kurang 3 tahun. Dia
muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat menghapal puluhan
nama-nama kepala negara. kemudian di usia balitanya dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak yang tamatan SMU dan
bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan anaknya seorang superkid
--seorang penyanyi sekaligus seorang bintang film....
(bersambung)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen,
Depdiknas,Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan
Karakter
divisi dari Indonesia Heritage Foundation.
----------
Anak Anak Karbitan (bagian 3)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 09-February-2007, 04:37:24
Outward Bound Parents--- (ORTU PARANOID) Untuk orangtua kelompok ini
mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat memberi kenyamanan dan
keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan marabahaya. Jika mereka menyekolahkan
anak-anaknya maka mereka lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat tempat tawuran yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan
menerima konsep Superkids Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak
yang hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya.
Terkadang mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti
memasukkan anak-anaknya Karate, Yudo, pencak Silat sejak dini.
Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya
adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panic dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka
pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka
menjadi steril dengan lingkungannya.
Prodigy Parents -- (ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak
memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata,hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya.
Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang
Cocok diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu mereka sangat mudah
terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah.
Buku-buku instant dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Misalnya
buku tentang Kiat-Kiat Mengajarkan bayi Membaca karangan Glenn Doman , atau
Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi Matematika karangan Siegfried, Berikan
Anakmu pemikiran Cemerlang karangan Therese Engelmann, dan Kiat-Kiat
Mengajarkan Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 9 Hari karangan Sidney Ledson .
Encounter Group Parents--(ORTU NGERUMPI) Merupakan kelompok orangtua
yang memiliki dan menyenangi pergaulan. Mereka terkadang cukup
berpendidikan,namun tidak cukup berada atau terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat
mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain.
Sebagai akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-anak dengan berbagai perilaku gang ngerumpi yang terkadang
mengabaikan anak. Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya
sehingga mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka
memiliki aktivitas di kelompoknya lebih berorientasi kepada kepentingan kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk
memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai
Superkids juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan.
Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak
yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan manis.
Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi
anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini tidak berpeluang
menjadi oraugtua yang melakukan miseducation dalam merawat dan mengasuh
anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang nyaman kepada
anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta kasih yang tulus sebagai orang tua. Mereka memenuhi rumah tangga mereka dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan,bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak
mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya. Anak-anak mereka pun
meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh kenangan indah yang
menyebabkan Kehangatan hidup berkeluarga menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka. Mereka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.
Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan
menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah benar-benar scorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan
unik!
Kamu harus tahu bahwa tiada satu pun yang lebih tinggi, atau lebih
kuat,atau lebih baik, atau pun lebih berharga dalam kehidupan nanti daripada
kenangan indah;terutama kenangan manis di masa kanak-kanak. Kamu
mendengar banyak hal tentang pendidikan, namun beberapa hal yang indah, kenangan berharga yang tersimpan sejak kecil adalah mungkin itu pendidikan yang terbaik. Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa
kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan
apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersimpan dalam hati
kita,maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan
kita (destoyevsky' s brothers karamoz)
(bersambung)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi
dari Indonesia Heritage Foundation.
----------
Anak Anak Karbitan (bagian 4)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 16-February-2007, 05:26:46
Anak didik menjadi dimiskinkan dalam menjalani pendidikan di sekolah.
Pikiran mereka diforsir untuk menghapalkan atau melakukan tugas-tugas
yang tidak mereka butuhkan sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh
jika guru menyita anak membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat
apa yang dirasakan anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan
susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran?
Tumpulnya rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa
yang direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka
sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang
pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada
dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam
kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk
sekolah... dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk....
Namun sekolah tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah
untuk menyongsong kehidupannya! Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara
yang sama. Membangun 90 % kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire
mengatakan bahwa sekolah telah melakukan pedagogy of the oppressed terhadap
anak-anak didiknya. Dimana guru mengajar, anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru
berbicara dan anak mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru
memilih dan mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi
program dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak
adalah objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran
banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan
terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking
wilayah....
Mengkompetensi Anak--- merupakan KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN ?
Anak adalah anugrah Tuhan... sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi
citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang
bertanggungjawab. (Nature versus Nurture) bagaimana? Karena ada dua
pengertian kompetensi. kompetensi yang datang dari kebutuhan di luar
diri anak (direkayasa oleh orang dewasa) atau kompetensi yang sesuai dengan
kebutuhan dari dalam diri anak sendiri. Sebagai contoh adalah konsep
kompetensi yang dikemukakan oleh John Watson (psikolog) pada tahun 1920
yang mengatakan bahwa bayi dapat ditempa menjadi apapun sesuai kehendak
kita; sebagai komponen sentral dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi
mampu jadi pembelajar, maka mereka juga dapat dibentuk melalui pembelajaran
dini.
Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut: Give me a
dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring
them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and train him
to become any type of specialist I might select -- doctor, lawyer, artist,
merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this
talents,penchants, tendencies, vocations, and race of his ancestors
Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan intervensi dini
setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada
anak-anaknya.
Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New Jersey pada
tahun 1979. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program tes untuk mengukur Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill) dalam mata pelajaran
membaca dan matematika. Hasil dari pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut : The improvement in those areas were not the result of any magic program or
any singular teaching strategy, they were... simply proof that
accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New Yersey
(bersambung)
Anak Anak Karbitan (bagian 5 - habis)
By Dewi Utama Faizah
Friday, 23-February-2007, 04:19:32
Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah kognitif
melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak
didiknya. Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak
akan menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah
dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan
pendidik sanubari karakter. Dimana mereka mendidik anak menjadi good
and smart terang hati dan pikiran.
Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan how learn to learn pada
anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada anak
didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi, dengan
berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka hadapi
sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina dengan baik
yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan berbagai
kreativitas.
Leonardo da Vinci seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya
berjam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia. Thomas Edison
mengatakan bahwa genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration . Semangat belajar encourage tidak dapat muncul tiba-tiba di diri anak.
Perlu proses yang melibatkan hati, kesukaan dan kecintaan belajar.
Sementara di sekolah banyak anak patah hati karena gurunya yang tidak
mencintai mereka sebagai anak. Selanjutnya misi sekolah lainnya yang
paling fundamental adalah mengalirkan moral litermy melalui pendidikan
karakter.
Kita harus ingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus
karakter inilah tujuan sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King,
Jr). lnilah keharmonisan dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi
otak kiri dan kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan
yang berguna dengan perbuatan yang baik....
PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang
terang hati dan terang pikiran good and smart merupakan tugas kita
bersama.
Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti
dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya
antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak
berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.
Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini
kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi SUPERKIDS. Inilah
fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari
lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke
kanak-kanakan.
(disadur dari berbagai sumber)
Dewi Utama Faizah.
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi
dari Indonesia Heritage Foundation
Label:
Parenting
Tindakan adalah kunci dasar untuk semua kesuksesan dan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil, do your best and let Allah do the rest.
Langganan:
Komentar (Atom)