Tipe
kepribadian anak dapat juga dikenali dari ciri lainnya yaitu anak sulit, mudah,
dan slow to warm up. Ciri ini
melengkapi penggolongan kepribadian berdasarkan temperamen yang dikemukakan
Hipocrates (460-375 SM), yakni phelgmatic, sanguine, choleric dan
melankolis. Untuk itu dituntut kejelian orang tua agar pola asuh yang tepat
bisa diterapkan tanpa hambatan berarti.
Semua
orang tua mengharapkan anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang cerdas,
bahagia, dan memiliki kepribadian yang baik. Namun, untuk mewujudkan harapan
itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Orang tua dituntut untuk jeli
mengamati perkembangan anak dan tentunya menerapkan pola asuh yang tepat.
Sebagai
langkah awal, Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si., dari Lembaga Psikologi
Terapan Universitas Indonesia, menekankan pula perlunya mengenali kepribadian
atau karakter anak. Agak berbeda dari teori sebelumnya yang mengatakan bahwa
kepribadian anak dipengaruhi temperamen phelgmatic, sanguine, choleric
dan melankolis, Mayke mengetengahkan penggolongan temperamen yang bersifat
lebih umum. Orang tua diminta mengamati apakah anaknya tergolong berkepribadian
sulit, mudah, atau slow to warm up. Ciri-ciri ketiga tipe temperamen
tersebut menurut Mayke biasanya telah dapat
diamati semenjak anak masih bayi.
diamati semenjak anak masih bayi.
1.
Tipe mudah
Ciri-cirinya:
*
Memiliki suasana hati yang positif, cenderung tidak rewel.
*
Dengan cepat dapat membentuk kebiasaan rutin yang teratur dan mudah
menyesuaikan diri dengan pengalaman, situasi dan orang-orang baru.
*
Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tipe ini umumnya lebih mudah
memahami penjelasan tentang perilaku yang diharapkan dari mereka.
2.
Tipe sulit
Ciri-cirinya:
*
Cenderung bereaksi secara negatif dan sering sekali menangis.
*
Cenderung bereaksi negatif terhadap kegiatan rutin, sehingga memberikan kesan
sangat sulit untuk hidup secara teratur (misalnya keteraturan dalam hal makan,
tidur, mandi dan lainnya).
*
Lamban dalam menerima pengalaman-pengalaman baru, sehingga penyesuaian diri
dengan lingkungan, situasi, serta orang-orang di sekitarnya, dan makanan baru
pun sulit.
*
Memasuki usia prasekolah atau balita, si anak sangat sulit sekali bila diberi
pengertian atau diberi penjelasan tentang perilaku apa yang tidak diharapkan
dari mereka.
3.
Tipe slow to warm up
Ciri-ciri:
*
Memiliki ciri antara tipe sulit dan mudah.
*
Tingkat aktivitasnya rendah.
*
Cenderung menunjukkan suasana hati yang negatif (tetapi sedikit lebih baik
daripada tipe sulit).
*
Penyesuaian dirinya juga lamban dan suasana hati anak tipe ini cenderung rendah
intensitasnya. Semasa bayi ia tidak terlalu rewel bila dibandingkan dengan tipe
anak sulit. Lewat bujukan-bujukan akhirnya ia dapat ditenangkan.
*
Memasuki usia prasekolah atau balita, anak tidak terlalu mudah saat diberi
pengertian atau diberi penjelasan tentang apa yang diharapkan dari mereka dalam
bertingkah laku. Dibutuhkan usaha yang cukup kuat dan sikap sabar dari orang
tua dalam rangka mengajak anak bekerja sama.
JANGAN
TERKECOH
Namun,
Mayke mengingatkan, orang tua hendaknya jangan sampai terkecoh. Bisa jadi anak
yang tenang dan jarang menangis disebabkan perkembangannya yang terlambat,
misalnya pada anak yang mengalami keterbelakangan mental. Anak autis pun ada
yang berpembawaan tenang. Namun harus diwaspadai, bisa jadi “ketenangan” anak
disebabkan keasyikannya yang berlebihan dalam dunianya sendiri sehingga orang
tua merasa tidak terganggu.
Bisa
juga, ciri-ciri tipe sulit pada seorang anak sebetulnya merupakan bentuk dari
gangguan perkembangan hiperaktif. Di usia bayi, anak-anak hiperaktif mempunyai
ciri-ciri ketidakteraturan dalam hal tidur, makan, dan eliminasi (buang air)
sehingga sulit untuk membiasakan suatu rutinitas pada mereka. Terkadang saat
masih berada dalam kandungan, si bayi sudah menunjukkan hiperaktivitasnya
dengan kerap melakukan gerakan berputar dan menendang keras-keras.
Bukan
hanya kewaspadaan saja yang dibutuhkan dalam mengamati ciri-ciri anak, tetapi
juga kepekaan orang tua. Orang tua yang tanggap akan segera memberikan respons
ketika anaknya membutuhkan bantuan atau perhatiannya dan tidak akan menunggu
sampai anaknya mengamuk atau menangis. Misalnya kebutuhan untuk didekap, untuk
ditemani, dan untuk ditenangkan di kala ia merasa takut.
POLA
ASUH YANG TEPAT
Pada
prinsipnya untuk ketiga tipe anak yang telah disebutkan di atas, pola
pengasuhan yang tepat adalah authoritative (demokratis). Yang dimaksud
dengan pengasuhan authoritative adalah pola pengasuhan di mana orang tua
mendorong anak untuk menjadi mandiri, tetapi tetap memberikan batasan-batasan
(aturan) serta mengontrol perilaku anak. Orang tua bersikap hangat, mengasuh
dengan penuh kasih sayang serta penuh perhatian. Orang tua juga mem-berikan
ruang kepada anak untuk membicarakan apa yang mereka inginkan atau harapkan
dari orang tuanya.
Jadi,
orang tua tidak secara sepihak memutuskan berdasarkan keinginannya sendiri.
Sebaliknya, orang tua juga tidak begitu saja menyerah pada keinginan anak. Ada
negosiasi antara orang tua dengan anak sehingga dapat dicapai kesepakatan
bersama. Misalnya, bila anak batita memaksakan keinginannya untuk menggunting
baju yang masih bisa dipakai. Orang tua dapat mengambil sikap dengan tetap
tidak mengizinkannya menggunting baju yang masih terpakai, tetapi memberikan
kain perca atau baju lain yang sudah tidak layak pakai. Oleh karena itu,
dibutuhkan kepekaan, kesabaran, dan kreativitas orang tua.
Menurut
Mayke, dalam pengasuhan authoritative tetap harus ditegakkan aturan main
mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh anak. Bila anak balita
tidak diberikan batasan ini, maka dia tidak tahu peraturan yang berlaku dan
tidak memiliki rambu-rambu yang bisa membatasi perilakunya. Kontrol orang tua
juga diperlukan, bila aturan telah ditetapkan, maka orang tua tetap harus
memantau sejauh mana aturan itu bisa berjalan. Jangan sampai tanpa
sepengetahuan orang tua, anak berhasil melanggar aturan main (misalnya karena
dia diasuh oleh orang lain).
Dengan
meningkatnya usia anak ke tahap sekolah dasar, maka peraturan tidak sepenuhnya
ditetapkan oleh orang tua, melainkan dibicarakan bersama anak. Pemantauan
(kontrol) tetap diperlukan, sekalipun tidak dalam jarak dekat seperti
sebelumnya. Misalnya, orang tua selalu memantau dengan siapa anak bermain, apa
saja kegiatan yang dia lakukan bersama dengan teman-temannya di luar rumah.
Tentu saja semua itu bukan dengan maksud untuk memata-matai aktivitas mereka.
Utami
Sri Rahayu. Foto: Ferdi/nakita
KONDISI
YANG TAK DAPAT DIHINDARI
POLA pengasuhan authoritative
memang yang paling ideal, tetapi mungkin adakalanya orang tua tak mampu
menerapkan pola ini dengan sepenuhnya. Terutama pada saat emosi orang tua
sedang tidak stabil. Saat mengalami kondisi emosi negatif, orang tua cenderung
bersikap lebih otoriter terhadap anak. Atau, bisa jadi saat sedang merasa
senang karena bisnisnya berhasil, orang tua cenderung bersikap agak permisif
terhadap anaknya.
Kondisi
ini, menurut Mayke, masih manusiawi karena memang emosi manusia
cenderung naik turun. “Yang penting, sikap orang tua masih dalam situasi
terkontrol, maksudnya segera menyadari dan kembali pada rambu-rambu yang telah
ditetapkan,” tambahnya.
Namun,
ada kemungkinan dalam kondisi tertentu orang tua memang harus bersikap tegas
bila berhubungan dengan keselamatan jiwa anak atau orang lain. Misalnya ketika
anak ingin bermain kabel yang dialiri listrik. Bila hal ini didiamkan, tentu
dapat membahayakan jiwanya. Mau tidak mau orang tua harus bersikap otoriter.
Katakan, tidak kepada si anak bahwa hal itu tidak boleh dilakukannya.
Selanjutnya,
untuk tidak mematahkan semangat atau keinginan anak bereksplorasi, carikan
alternatif. Misalnya, berikan kabel lain yang tidak berhubungan dengan listrik.
Jangan lupa, berikan alasan kenapa bermain kabel yang tertancap ke stop kontak
dilarang.
Pada
saat anak sedang sakit pun, pola pengasuhan demokratis tidak dapat diterapkan
sepenuhnya. Pertimbangan kesehatan anak menjadi yang utama. Untuk itu, orang
tua hendaknya memperhatikan seberapa berat dampak yang bakal ditimbulkan bila
tetap menerapkan pola pengasuhan seperti biasa.
Khusus
untuk anak bertipe sulit dan slow to warm up, memang dibutuhkan
ketahanan fisik, kesiiapan mental dan kedewasaan orang tua. Selama mengasuh
anak-anak dengan temperamen yang cenderung menyulitkan itu. Berarti orang tua
harus lebih keras dalam berupaya.
SYARAT POLA ASUH AUTHORITATIVE
INILAH beberapa hal yang patut mendapat
perhatian dalam menerapkan pola asuh authoritative:
1.
Utamakan kehangatan atau kasih sayang yang mendalam. Kehangatan menjadi sangat
penting karena tanpa adanya hal itu penerapan pola asuh authoritative
semakin tidak gampang, terutama pada anak-anak yang tergolong sulit dan slow
to warm up. Kehangatan akan lebih menenangkan hati anak dengan kedua tipe
temperamen ini sehingga kadar emosi negatifnya menurun. Wujud kehangatan pada
anak usia batita dapat dilakukan melalui pelukan yang erat, sering mengajaknya
bermain, bercerita, dan berbicara dengan lemah lembut.
2.
Saat memberlakukan batasan, orang tua harus tegas dan tegar (konsisten),
sehingga anak akhirnya belajar bahwa orang tuanya tidak main-main dengan aturan
yang sudah ditetapkan.
3.
Orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya. Ada rambu-rambu yang harus
ditaati oleh orang tua dan anak. Selama masih menginjak usia batita, bila anak
menolak rambu-rambu yang ditetapkan, maka ia jangan dipaksa mematuhinya.
Cobalah cari alternatifnya dengan memakai penjelasan berbeda.
Namun
anak-anak usia sekolah umumnya sudah dapat diajak berbicara atau berdiskusi
tentang rambu-rambu ini, sehingga penerapannya menjadi lebih mudah. Hendaknya
orang tua sudah mempersiapkan alasan-alasan yang dapat diterima anak, yaitu
alasan yang tidak terlalu mengada-ada.
4.
Dalam mengasuh dan membesarkan anak yang termasuk mudah, Mayke mengingatkan
agar jangan sampai orang tua malah mengabaikannya. Hal ini umumnya sering
terjadi pada orang tua yang memiliki anak-anak dengan dua tipe berbeda,
misalnya yang satu termasuk tipe sulit dan yang lain mudah. Ayah atau ibu
lantas lebih memperhatikan anak yang sulit dan selalu berusaha
“memenangkannya”.
Tindakan
ini, tidak hanya akan membahayakan anak dengan tipe mudah, tapi juga yang
bertipe sulit. Anak tipe mudah akan mengalami frustrasi karena merasa selalu
dikalahkan dan beralih menjadi anak yang bermasalah. Sedangkan, anak dengan
tipe sulit juga menjadi anak yang tidak mampu mengelola rasa frustrasi atau
rasa kecewanya kala tidak mendapatkan sesuatu karena selalu dilindungi.
Sumber: Lantika